KEGIATAN INOVASI PUSKESMAS TAMANAN

DORA PUJA 


PRAKATA

Pada  Peraturan  Menteri  Kesehatan  No  3  Tahun  2104  pasal  Pasal 12  disebutkan  untuk  mendukung  penyelenggaraan  STBM,  salah  satu  peran  pemerintah daerah  kabupaten / kota  adalah  melakukan   koordinasi  lintas  sektor  dan  lintas  program,  jejaring  kerja  dan  kemitraan  dalam  rangka  pengembangan  penyelenggaraan  STBM.
Memperhatikan  Peraturan  Menteri  diatas  dan  mendasarkan  pada  Peraturan  Pemerintah  Republik  Indonesia  Nomor  6  Tahun  2014  Tentang  Kesehatan  Lingkungan yang  menyebutkan   bahwa   Kesehatan Lingkungan  adalah  upaya  pencegahan  penyakit  dan / atau  gangguan  kesehatan  dari  faktor  risiko  lingkungan untuk  mewujudkan  kualitas  lingkungan  yang  sehat  baik  dari  aspek  fisik,  kimia,  biologi,  maupun  sosial,  timbullah  kegundahan  hati  ini  sebagai  seorang  Kepala  Puskesmas  betapa  lambatnya  perkembangan  program  tersebut di wilayah  kerjanya.  Bahkan  kalau  boleh  dikatakan  banyaknya  hambatan  yang  masih  juga  merintangi  kecepatan  berjalannya  kegiatan  program tersebut  apalagi  bila  dibandingkan  dengan  kegiatan – kegiatan  yang  diluncurkan  pemerintah  dalam  bentuk  program – program  kesehatan.
Lebih  mendalam  lagi  bila  kita  telaah  pada  setiap  penilaian  kinerja  Puskesmas  yang  dilaksanakan  secara  berkala  disetiap  tahunnya,  program  penyhatan  lingkungan  hampir  selalu  menjadi  satu  permasalahan  yang  harus  segera  diatasi.
Dengan  sesadarnya,  kami  telah  melihat  betapa  kegigihan  seorang  sanitarian  untuk  mencapai  tujuan  dan  target  yang  ditetapkan.  Namun  ada  saja  dan  selalu  ada  kekurangan  yang  mengiringi.
Untuk  itu  kami  berfikir  lebih  fokus  lagi  untuk  mencari  akar  permasalahan  yang  menyebabkannya.  Guna  menemukan  hambatan  ini  komunikasi  internal  kami  lakukan  tidak  saja  secara  langsung  dengan  Penanggungawab  program  Penyehatan  Lingkungan,  namun  juga  dengan  program – program  terkait.  Melalui  kegiatan  Minilokakarya  Tingkat  Puskesmas  kami  bahas  permasalahan  Penyehatan  Lingkungan.  Dari  masukan  dan  umpan  balik  yang  didapat  dari  peserta  Minilokakarya  ini  didapatkanlah  penyebab – penyebab  terjadinya  hambatan  yang  merintangi  perkembangan  capaian  kegiatan  program  Penyehatan  Lingkungan.
Ada  beberapa  yang  menjadi  prioritas  masalah.  Untuk  itu  kami  gali  lagi  masukan  dari  peserta  minilokakarya  yang  dihadiri  oleh  seluruh  penanggungjawab  layanan  yang  ada  di  Puskesmas,  bagaimana  cara  pemecahannya.
Agar  lebih  menyentuh  pada   kondisi  riil  dilapangan  dan  dengan  memadukan  dasar – dasar  teori  yang  ada  di  Puskesmas  diterima  usulan  untuk  melaksanakan  Survey  Desa  Mandiri  ( SMD ).  Analisa  hasil  hasil  SMD  ini  dirasa  perlu  untuk  memasukkannya  kedalam  MMD  ( Musyawara  Masyarakat  Desa )
Dan  benar,  apa  yang  menjadi  hambatan  sebagai  hasil  daripada  analisis  SMD  terjadi  pula  di masyarakat.
Untuk  memberikan  treatment  yang  tepat,  ada  niat  kami  untuk  memaparkannya  kepada  Lintas  Sektor.  Namun  sebelum  dipaparkannya  hasil  MMD  kami  sadari  bahwa  Puskesmas  harus  memiliki  strategi  yang  tepat  sehingga  dapat diterima,  diberikan  dukungan  dan  dilaksanakannya  ide – ide  Puskesmas  dalam  menyelesaikan  hambatan – hambatan  yang  dihadapi
Kami  menyadari  bahwa  treatment  yang  bisa  diterima  dan  dapat  diberikan  baik  dilintas  program  secara  intern  maupun  dari  lintas  sektor  secara  eksternal  dan  bahkan  secara  Struktural  ketingkat  Dinas  Kesehatan  Kabupaten  Bondowoso,  tentu  saja  kegiatan  yang  yang  inofatif  yang  dapat  difahami  dan  dilaksakan  secara  bersama – sama  oleh  seluruh  pihak  yang  ada  diwilayah  kerja  Puskesmas  Tamanan
Bersama – sama  dengan  para  koordinator  program  dan  jejaring  Puskesmas  dilaksnakan  rembug  untuk  menentukan  kegiatan  Inofatif  yang  hendak  dilaksanakan  guna  mentreatment  permasalahan  yang  ada
Dari  semua  masukan  dan  usulan  pada  pertemuan rembug  diatas  maka  dapat  ditarik  satu  kegiatan  inovasi  yang  kami  beri  nama  “ DORAPUJA  ( Dorong  masyaRakat  Punya  JAmban ) “
DORAPUJA  PUJA  ini  merupakan  kegiatan  yang  bersumberdaya  masyarakat  dengan  dukungan  seluruh  pihak – pihak  terkait  dalam  rangka  tercapainya  Visi  dan  Misi  Puskesmas  untuk  mewujudkan  masyarakat  Kecamatan  Tamanan  yang  sehat



Tamanan,  15  Juli  2017
KEPALA  PUSKESMAS  TAMANAN






dr. M. Purwoko
NIP. 19770415 201001 1 014





I. PENDAHULUAN

A. Latar  Belakang
Pada  Peraturan  Pemerintah  Republik  Indonesia  Nomor  6  Tahun  2014  Tentang  Kesehatan  Lingkungan disebutkan   bahwa   Kesehatan Lingkungan  adalah  upaya  pencegahan  penyakit  dan / atau  gangguan  kesehatan dari  faktor  risiko  lingkungan untuk  mewujudkan  kualitas  lingkungan  yang  sehat  baik  dari  aspek  fisik,  kimia,  biologi,  maupun  sosial
Dan  pada  Pasal 30 (1) Kesehatan Lingkungan diselenggarakan melalui upaya Penyehatan, Pengamanan, dan  Pengendalian.  (2) Upaya Penyehatan, Pengamanan, dan Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan  untuk  memenuhi Standar Baku  Mutu  Kesehatan  Lingkungan  dan  Persyaratan Kesehatan
Dengan  telah  tercantumnya  definisi  dan  petunjuk  teknis  pada  peraturan  tersebut,  sebagai  kami  pemberi  layanan  kesehatan  di  Puskesmas  sudah  barang tentu  akan  melaksanakannya  dengan  penuh  pengabdian  daan  tanggungjawab.
Memang  tidak  sedikit  kendala  yang  harus  dihadapi,  namun  dengan  koordinasi  dan  kerjasama  baik  melalui  lintas  sektor  maupun  lintas  proram  dan  stake  holder  terkait  pastilah  kendala  akan  bisa  diatasi.  Dari  beberapa  kendala  yang bisa  disebutkan  diantaranya  budaya  masyarakat  yang  telah  melekat  dan  turun  temurun,  hingga  sulit  untuk  diatasi.
Beberapa  strategi  telah  dilaksnakan.  Mulai  dari  penyuluhan,  pemberian  stimulan  hingga  pemicuan  keseluruh  desa  sasaran  sdh  dilaksanaan,  Namun  hasilnya  belum  juga  dirasakan  secara  maksimal  dan  sesuai  dengan  yang  diharapkan.
Dari  sinilah  yang  menuntut  kita  untuk  selalu  merubah  dan  mengembangkan  strategi  guna  mencari  langkah  yang  tepat  dan  secara  serempak  dapat  difahami  dan  dikerjakan  oleh  seluruh  masyarakat  diwilayah  kerja  Puskesmas  Tamanan
Ditengah – tengah  tuntutan  inilah  kiranya  yang  membuat  kita  menentukan  langkah  strategis  guna  mencapai  tujuan  diatas.  Dengan  pelibatan  seluruh  kekuatan  yang  ada  disepakatilah  “DORA  PUJA”  sebagai  inovasi  yang  akan  dilaksanakan

B. Tujuan
1. Tujuan  Umum

Memberikan  motivasi  kepada  seluruh  masyarakat  untuk  mau  dan  mampu  meningkatkan  kualitas  kesehatannya  terutama  melalui  tindakan  preventif  atau  pencegahan

2. Tujuan  Khusus
a. Sebagai  langkah  sosialisasi  kegiatan  STBM  Pilar  I
b. Motifasi  partisipasi  warga  untuk  memahami  dan  memiliki  jamban  keluarga
c. Meningkatkan  partisipasi  bagi  seluruh  kekuatan  yang  mendukung  kelancaran  pelaksanaan  program
d. Memacu  kader  kesling  untuk  menggali  potensi  yang  ada  di  masing – masing  desa
e. Membantu  kader  menentukan  bentuk  dan  jenis  kegiatan  sesuai  dengan  inovasi  yang  telah  disepakati

II. PROFIL  PUSKESMAS  TAMANAN

A. Geografis Wilayah Kerja Puskesmas Tamanan
Puskesmas Tamanan terletak di Kecamatan Tamanan Kabupaten Bondowoso, dengan luas wilayah kerja 28,04 km2 dengan dataran rendah 100%, terdiri dari sembilan desa:

1. Desa Tamanan
2. Desa Kalianyar
3. Desa Wonosuko
4. Desa Sukosari
5. Desa Sumber Kemuning
6. Desa Kemirian
7. Desa Karangmelok
8. Desa Mengen
9. Desa Sumberanom

Seluruh desa di wilayah Puskesmas Tamanan  bisa terjangkau kendaraan roda dua dan roda empat.

B. Data Kependudukan

C. Data  Cakupan  jamban









III. KEGIATAN  DORA PUJA

Dalam  melaksanakan  kegiatan  pembangunan  di  wilayah  kerja  Puskesmas,  semua  pemberi  layanan  kesehatan  berupaya  penuh  untuk  menjangkau  seluruh  pelanggan  guna  memenuhi  kebutuhan  kesehatan yang  layak
Diawali  dengan  lahirnya  inovasi  DORA  PUJA  ini  kegiatan  dilaksanakan  melalui  sebagai  berikut  :



DORA PUJA






IV. MENUJU  ODF

Puskesmas  yang  terletak  di  pinggir  sebelah selatan  Kabupaten  Bondowoso  ini,  ditinggali  oleh  37.339  jiwa  yang  tinggal  di  12.551  rumah.  Sangat  bervariasi  budaya  yang  ada.  Sebagian  sudah  memahami  arti  kesehatan  bagi  keberlanjutan  hidupnya,  namun  tidak  sedikit  yang  belum  menyadari  dampak  dari  kesehatan  bagi  masa  depan  mereka  dan  keluarganya.  Terlebih  kesehatan  lingkungan.  Masyarakat  cenderung  memanfaatkan  dukungan  alam  yang  menurutnya  mampu  menunjang  nilai  kesehatannya.  Sebagai  contoh  adalah  pemanfaatan  air  bersih  dari  sumber – sumber  yang  ada,  tanpa  mengolah  bahkan  mengurangi  dampak  negatif  yang  mungkin  timbul.
Begitu  pula  cara  buang  besar  masyarakatnya.  Sudah  bertahun – tahun  dan  turun  temurun  terbiasa  dibuang  disungai,  ada  pula  yang  masih  BAB  ditempat – tempat  terbuka  yang  lainnya.  Parahnya  lagi  masih  pula  budaya  ketergantungan  kepada  alam  yang  masih  tetap  melekat.  Hal  ini  memberi  dampak  kebiasaan  yang  kurang  baik  karena  aliran  sungai  yang  ada  dimanfaatkan  pula  untuk  mandi  dan  cuci  piring  serta  alat – alat  dapur.  Betapa  rentannya  terhadap  penuran  penyakit.
Sampai  suatu  ketika,  Puskesmas  yang  telah  menelurkan  DORA  PUJA  ( DOrong  masyRAkat  PUnya  JAmban )  melalui  tenaga – tenaga  kesehatan  dan  kader – kader  kesehatan  lingkungan  menjadi  tergugah  untuk  terus  dan  terus  meningkatkan  kemauan  dan  kemampuan  masyarakatnya  menyadari  fungsi  daripada  jamban  keluarga  bagi  kesehatannya.  Dengan  gencarnya  pembinaan,  pelatihan  dan  berbagai  pendekatan  yang  dilakukan  membuat  masyarakat  sadar  akan  dampak tersebut.  Kini  mereka  faham  bahwa  semua  yang  telah  dilakukan oleh tenaga – tenaga  Puskesmas  adalah  demi  derajat  kesehatan  masyarakatnya.
Melihat  fakta  ini,  perhatian  para  pemangku  kebijakan  menjadi  lebih  besar.  Banyak  upaya – upaya  yang  mulai  dikerjakan.  Jika  ditahun – tahun  sebelumnya  enggan  untuk  memasukkan  anggaran  desa  kepada  masalah  lingkungan,  kini  tidak  lagi  keberatan  memberikan  dukungan  terhadap  pengadaan  jamban  bagi  warganya.  Namun  halangan  masih  terbentur pada  upaya  kebijakan  yang  belum  secara  eksplisit  menyebutkan  diijinkannya  dana  desa  dimanfaatkan  untuk  jambanisasi.  Sehingga  peningkatan  akses  jamban  banyak  terealisasi  pada  pembangunan  MCK.  Meski  sudah  berkali – kali  disampaikan  dampak  yang  yang  kurang  menguntungkan  terhadap  pembangunan  MCK,  belum  pula  berani  menganggarkan  dana  desa  untuk  pengadaan  jamban  keluarga.
Keluhan – keluhan  ini  disampaikan  juga  ke  Dinas  Kesehatan  Kabupaten  Bondowoso.  Dengan  perjuangan  yang  tidak  ringan  dan  tidak  pula  mengenal  lelah,  berhasil  memberikan  kepercayaan  kepada Pemerintah  Daerah,  hingga  diterbitkannya  Peraturan  Bupati  tentang  jambanisasi  yang  tertuang  pada  Surat  Edaran  Bupati
Dengan  payung  hukum  inilah,  Kepala  Desa  mulai  memanfaatkan  anggaran  yang  ada  di  Desa  pada  proses  pengadaan  jamban.  Ini  berarti  bahwa  perhatian  dan  partisipasi  Lintas  sektor  mulai  berjalan.
Dari  waktu  ke  waktu  kegiatan  DORAPUJA  terus  didengungkan  dan  terdengar  oleh  banyak  pihak.  Dampak  positifpun  mulai  dirasakan.  Berbagai  Stimulan  bermunculan.  Diantaranya  adalah  dari  TNI  melalui  Kodim,  Koramil  dan  beberapa  pihak  yang  lain.
Dengan  kekuatan  swadaya  masyarakat  dan  penguatan  lintas  sektor  serta  pihak – pihak  terkait  tercapailah  cita – cita yang diinginkan  yakni  desa  ODF.  Meski  belum  seluruh  desa  dinyatakan  ODF  tetapi  DORAPUJA  telah  menunjukkan  daya  inovasinya.

V. MERAWAT  DESA  STBM  PILAR  I
Begitu  besar  hambatan  dan  beban  menuju  desa  ODF,  maka  perlu  kiranya  dibuatkan  rencana  tindaklanjut  langkah – langkah  pemeliharaan  dan  peningkatan  kualitas  desa  ODF  menuju  ( Desa  STBM  Pilar  I.
Beberapa  langkah  yang  direncanakan  secara  garis  besar  dibagi  menjadi  :
1. Mempertahankan  sarana  yang  ada  atau  yang  sudah  terbangun
2. Meningkatkan  kualitas pemanfaatan  dan  fungsinya
3. Meningkatkan  jumlah  sarana  terbangun
4. Pengembangan  desa  ODF
5. Memberikan  pembinaan  guna  menuju  desa  STBM
6. Mencapai  PHBS  bagi  seluruh  warga  masyarakat  Kecamatan  Tamanan

VI. PENUTUP
Demikian  rangkaian  perjuangan  dalam  memberikan  langkah – langkah  inovatif  dalam  penyelesaian  tugas  dan  tanggungjawab  sebagai  pemberi  layanan  kesehatan  diwilayah  kerja  Puskesmas  Tamanan,  semoga  mendapat  perhatian  dalam  bentuk – bentuk  pembinaan  selanjutnya  sehingga  menjadi  penyemangat  bagi  kami  khusunya  dan  pihak – pihak  terkait  pada  umumnya.
Harapan  berikut  dan  sekaligus  yang  terakhir  bagi  kami  semoga  inovasi  ini  bisa  menjadi  motivasi  bagi  pemberi  layanan  diwilayah  kerja  masing – masing  untuk  selalu  memberikan  inovasi  pada  seluruh  bentuk – bentuk  kegiatan  layanan  yang  menjadi  beban  tugas  dan  tanggungjawabnya.






LAMPIRAN
1. DATA  KESEHATAN  LINGKUNGAN
a. Data  Jumlah  Penduduk



b. Data  Sarana  Air  Bersih



D. DATA MCK 2016 - 2017



1.     DOKUMEN  KEGIATAN

a.      Persiapan  Kegiatan
1.      SMD



2.      MMD



3.      Komunikasi  Internal


4. Minilokakarya Tingkat puskesmas



5.      Minilokakarya  Lintas  Sektor



a.      Pelaksanaan  Kegiatan
1.        Sosialisasi  DORAPUJA


2. Advokasi  Tingkat  Kecamatan


3.        Advokasi  Tingkat  Desa



4.        Launching  DORA PUJA




A.      Tindak  Lanjut  Kegiatan

1.     Pelatihan  Kader  Kesehatan  Lingkungan



2. Pelatihan  Tukang  Sanitasi





Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS JENIS PELAYANAN PUSKESMAS TAMANAN